Senin, 02 Februari 2015

Hijab dan Keutamaannya



Hijab dan Keutamaannya

Allah Azza wa Jalla menciptakan manusia dengan bentuk terbaik dan kaum hawa merupakan cerminan terbaik dari hal tersebut. Seperti  yang kita tahu, bentuk dan lekuk tubuh kaum hawa banyak mengundang kasus pelecehan. Ibaratnya, kaum hawa (wanita) seperti buah nangka yang sudah dibelah, selain akan kehilangan cita rasa, aroma dan keistimewaan yang dimiliki, juga tidak akan selamat dari serbuan lalat dan serangga lainnya. Begitu juga dengan wanita, ketika dia selalu memamerkan kecantikan dan keindahan tubuhnya, laki-laki hidung belang dan makhluk sejenisnya ini akan segera datang untuk menikmatinya. Islam sebagai agama yang sempurna datang menawarkan solusinya yaitu dengan hijab.
Seorang wanita asal Amerika pernah membuktikan bahwa hijab dapat menghindarkan wanita dari pelecehan. Awalnya sang model yang berparas cantik berjalan menggunakan pakaian ketat. Para pria langsung menggoda, mulai dari sekedar menyapa, bersiul, menatap ke arah bagian tubuh tertentu, hingga mengajak berkenalan. Kemudian masih dengan model dan rute yang sama, kali ini ia berjalan mengenakan pakaian terusan panjang dan hijab berwarna hitam. Ia justru terlepas dari bentuk pelecehan. Tidak ada tatapan tajam hingga siulan. Tak ada laki-laki hidung belang yang menggodanya.
Pengertian hijab sendiri yaitu selembar kain yang digunakan untuk menutupi kepala melingkupi rambut, telinga, leher dan (biasanya) dada. Pemakaian hijab juga disertai dengan menggunakan pakaian yang yang menutupi hingga ke ujung tangan dan kaki mereka. Hijab adalah sebuah kewajiban dalam Islam dan merupakan bagian dari syari’at yang penting untuk dilaksanakan oleh seorang muslimah sebagaimana yang tertera di Al-Qur’an : Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (An-Nur ayat 31)
Dalam ayat lain juga disebutkan kewajiban memakai hijab, yaitu dalam QS. Al-Ahzab ayat 59 yang artinya: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“.
Sekarang, bagaimana sebaiknya kriteria hijab yang benar? Menurut Muhammad Nashiruddin Al Albany, kriteria jilbab yang benar hendaklah menutup seluruh badan, kecuali wajah dan dua telapak, jilbab bukan merupakan perhiasan, tidak tipis, bahan tidak tembus pandang, tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh, tidak disemprot parfum, tidak menyerupai pakaian kaum pria atau pakaian wanita-wanita kafir dan bukan merupakan pakaian untuk mencari popularitas diri. Subhanallah, kalau semua wanita memakai kriteria hijab seperti yang tersebut di atas, pasti akan terhindar dari pelecehan. Dengan berhijab, wanita juga akan terlihat lebih cantik, anggun, dan aura positif akan terpancar dari dalam tubuhnya.
Sayangnya, banyak wanita jaman sekarang yang katanya memakai hijab tapi masih terlihat lekuk tubuhnya atau yang lebih dikenal dengan istilah “jilboobs”, jilbab yang menonjolkan lekukan tubuhnya. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128). Maksud dari berpakaian namun telanjang adalah menyingkap aurat, berpakaian tipis, termasuk pula berpakaian ketat yang menampakkan bentuk lekuk tubuh. Na’udzubillah.
Hijab atau jilbab sering dijadikan tolak ukur perilaku seseorang. Ada seorang wanita yang tidak berjilbab tapi akhlaknya bagus. Ada juga seorang wanita berjilbab, tapi akhlaknya buruk.. Contoh kasusnya, ada seorang pejabat wanita berjilbab tapi melakukan tindak pidana korupsi. Berarti, pribadi wanita tersebut  hanya sekedar 'mengetahui' belum 'memahami' perilaku wanita berjilbab yang seharusnya. Kita tidak boleh menyalahkan jilbabnya, karena itu kewajiban, cukup pribadinya yang patut kita salahkan.
Oleh karenanya, pakailah jilbabmu tidak sekedar berniat untuk melakukan suatu hal yang wajib dari perintah Allah. Jangan kamu memakai jilbab hanya untuk fashion belaka, atau memakai jilbab untuk menutupi kejelekan sifatmu. Ikhlaslah memakai jilbab untuk kebaikan dirimu, dan jadikan hijab sebagai kebutuhanmu, niscaya kelak kamu akan merasakan manfaat jilbabmu dan berubahlah akhlakmu. Aamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar