Hijab dan Keutamaannya
Allah Azza wa Jalla menciptakan manusia dengan bentuk terbaik
dan kaum hawa merupakan cerminan terbaik dari hal tersebut. Seperti yang kita tahu, bentuk dan lekuk tubuh kaum
hawa banyak mengundang kasus pelecehan. Ibaratnya, kaum hawa (wanita) seperti
buah nangka yang sudah dibelah, selain akan kehilangan cita rasa, aroma dan
keistimewaan yang dimiliki, juga tidak akan selamat dari serbuan lalat dan
serangga lainnya. Begitu juga dengan wanita, ketika dia selalu memamerkan
kecantikan dan keindahan tubuhnya, laki-laki hidung belang dan makhluk sejenisnya
ini akan segera datang untuk menikmatinya. Islam sebagai agama yang sempurna
datang menawarkan solusinya yaitu dengan hijab.
Seorang wanita asal Amerika pernah membuktikan bahwa hijab dapat
menghindarkan wanita dari pelecehan. Awalnya sang model yang berparas cantik
berjalan menggunakan pakaian ketat. Para pria langsung menggoda, mulai dari
sekedar menyapa, bersiul, menatap ke arah bagian tubuh tertentu, hingga
mengajak berkenalan. Kemudian masih dengan model dan rute yang sama, kali ini
ia berjalan mengenakan pakaian terusan panjang dan hijab berwarna hitam. Ia
justru terlepas dari bentuk pelecehan. Tidak ada tatapan tajam hingga siulan.
Tak ada laki-laki hidung belang yang menggodanya.
Pengertian hijab sendiri yaitu selembar kain yang digunakan untuk
menutupi kepala melingkupi rambut, telinga, leher dan (biasanya) dada. Pemakaian
hijab juga disertai dengan menggunakan pakaian yang yang menutupi hingga ke
ujung tangan dan kaki mereka. Hijab adalah sebuah kewajiban dalam Islam dan
merupakan bagian dari syari’at yang penting untuk dilaksanakan oleh seorang
muslimah sebagaimana yang tertera di Al-Qur’an : Katakanlah kepada wanita yang
beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan
janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari
padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah
menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau
ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka,
atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki
mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam,
atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak
mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti
tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui
perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah,
hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (An-Nur ayat 31)
Dalam ayat lain juga disebutkan kewajiban memakai hijab, yaitu
dalam QS. Al-Ahzab ayat 59 yang artinya: “Hai Nabi, katakanlah kepada
isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:
"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka".
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka
tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“.
Sekarang, bagaimana sebaiknya kriteria hijab yang benar? Menurut
Muhammad Nashiruddin Al Albany, kriteria jilbab yang benar hendaklah menutup
seluruh badan, kecuali wajah dan dua telapak, jilbab bukan merupakan perhiasan,
tidak tipis, bahan tidak tembus pandang, tidak ketat sehingga menampakkan
bentuk tubuh, tidak disemprot parfum, tidak menyerupai pakaian kaum pria atau
pakaian wanita-wanita kafir dan bukan merupakan pakaian untuk mencari
popularitas diri. Subhanallah, kalau semua wanita memakai kriteria hijab
seperti yang tersebut di atas, pasti akan terhindar dari pelecehan. Dengan
berhijab, wanita juga akan terlihat lebih cantik, anggun, dan aura positif akan
terpancar dari dalam tubuhnya.
Sayangnya, banyak wanita jaman sekarang yang katanya memakai hijab
tapi masih terlihat lekuk tubuhnya atau yang lebih dikenal dengan istilah “jilboobs”,
jilbab yang menonjolkan lekukan tubuhnya. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada
dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, suatu kaum yang
memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang
berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta
yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium
baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim
no. 2128). Maksud dari berpakaian namun telanjang adalah menyingkap aurat,
berpakaian tipis, termasuk pula berpakaian ketat yang menampakkan bentuk lekuk
tubuh. Na’udzubillah.
Hijab atau jilbab sering dijadikan tolak ukur perilaku seseorang.
Ada seorang wanita yang tidak berjilbab tapi akhlaknya bagus.
Ada juga seorang wanita berjilbab, tapi akhlaknya buruk.. Contoh
kasusnya, ada seorang pejabat wanita berjilbab tapi melakukan tindak pidana
korupsi. Berarti, pribadi wanita tersebut hanya sekedar 'mengetahui' belum 'memahami'
perilaku wanita berjilbab yang seharusnya. Kita tidak boleh menyalahkan
jilbabnya, karena itu kewajiban, cukup pribadinya yang patut kita salahkan.
Oleh karenanya, pakailah jilbabmu tidak sekedar berniat untuk
melakukan suatu hal yang wajib dari perintah Allah. Jangan kamu memakai jilbab
hanya untuk fashion belaka, atau memakai jilbab untuk menutupi kejelekan
sifatmu. Ikhlaslah memakai jilbab untuk kebaikan dirimu, dan jadikan hijab sebagai
kebutuhanmu, niscaya kelak kamu akan merasakan manfaat jilbabmu dan berubahlah
akhlakmu. Aamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar